Cara Melatih Memori Bayi dengan Benar

Saat bayi semakin besar, perkembangan daya ingatnya semakin matang. Berikut hal-hal yang bisa Anda lakukan untuk membantunya:
  1. Ulangi sajak atau rima pendek berkali-kali kepadanya, hingga ia mampu mengucapkannya sendiri.
  2. Nyanyikan lagu pendek dengan diiringi gerak tubuh, seperti tepuk tangan, anggukan, hentakan kaki dan gerakan sederhana lainnya.
  3. Membacakan buku untuknya adalah cara terbaik untuk mengembangkan daya ingat. Jika sebuah cerita dibacakan berulang-ulang, ia akan mengantisipasinya dengan mengucapkannya sebelum Anda menyelesaikan kalimat. Coba hentikan kalimat di tengah-tengah untuk memberikan kesempatan bayi mengisi kata-kata yang hilang seperti “bunga”, “ayam” atau “kucing”.
  4. Perkenalkan urutan angka “satu, dua, tiga..” atau abjad “a, b, c, d, e...” dan seterusnya untuk menstimulasi daya ingatnya. Perkaya dengan irama atau pola agar lebih menarik bagi bayi.
AyahBunda

10 Tahapan Proses Pembuatan Bayi Tabung

Secara sederhana, bayi tabung adalah proses pembuahan sel telur dan sperma di luar tubuh ibu, istilahnya in vitro vertilization (in vitro bahasa latin, artinya “dalam gelas atau tabung,” vertilization artinya pembuahan). Dalam proses bayi tabung, sel telur matang diambil dari indung telur ibu, dibuahi dengan sperma di dalam medium cairan. Setelah berhasil, embrio kecil yang terjadi dimasukkan ke rahim dengan harapan berkembang menjadi bayi.

Berikut 10 tahapan dalam proses pembuatan bayi tabung:
  1. Seleksi pasien. Apakah Anda dan suami layak mengikuti program bayi tabung. Bila layak, baru bisa masuk dan mengikuti program bayi tabung.
  2. Stimulasi atau merangsang indung telur untuk memastikan banyaknya sel telur. Secara alami, sel telur hanya satu. namun untuk bayi tabung, perlu lebih dari sati sel telur untuk memperoleh embrio.
  3. Pemantauan pertumbuhan folikel (cairan berisi sel telur di indung telur) melalui ultrasonografi. Tujuannya, melihat apakah sel telur sudah cukup metang untuk ‘dipanen.’
  4. Mematangkan sel telur dengan menyuntikkan obat agar siap ‘dipanen.’
  5. Pengambilan sel telur, kemudian diproses di laboraturium.
  6. Pengambilan sperma suami (pada hari yang sama). Jika tidak ada masalah, pengambilan dilakukan lewat masturbasi. Jika bersamalah, pengambilan sprema langsung dari buah zakar melalu operasi.
  7. Pembuahan atau (fertilisasi) di dalam media kultur di laboraturium. hasilnya embrio.
  8. Transfer embrio kembali ke dalam rahim agar terjadi kehamilan, setelah embrio terbentuk.
  9. Penunjang fase luteal untuk mempertahankan dinding rahim. Dokter emberi obat untuk mempertahankan dinding rahim ibu agar terjadi kehamilan.
  10. Terakhir, proses simpan beku embrio. Jika ada embrio lebih, bisa disimpan untuk kehamilan selanjutnya. (me) | AyahBunda
Di mana?

Siloam Hospital Surabaya.
Telp. 031-503 1333
Klinik Melati, Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta.
Telp. 021- 566 8284
Klinik Morula, Rumah Sakit Bunda Jakarta.
Telp. 021-3192 2005
Klinik Permata Hati RS dr.Sarjito Yogyakarta.
Telp. 0274-587 333
Aster Fertility Clinic, Bandung.
Telp. 022-7081 3800

Imunisasi MMR Tidak Sebabkan Autisme Pada Anak

Sudah sejak lama imunisasi MMR ini menjadi suatu kontroversial karena dihubungkan dengan terjadinya kelainan autisme pada anak. Tapi beberapa peneliti baru-baru ini mengungkapkan bahwa mereka mempunyai bukti kuat bahwa imunisasi MMR tidak berhubungan dengan terjadinya autisme.

Pada tahun 1993, suntikan MMR (measles, mumps and rubella) di kota Jepang telah ditarik dan tidak boleh diberikan pada anak lagi. Tapi kenyataannya, sampai saat ini insidens terjadinya autisme tetap meningkat.

Di Jepang, suntikan MMR diberikan pada anak usia 1 tahun. Di tahun 1988, sebanyak 69,8% anak mendapat suntikan anak, di tahun 1990 menurun hingga mnejadi 33,6% dan di tahun 1992 hanya tinggal 1,8%. Dan akhirnya di tahun 1993, vaksinasi ini ditarik oleh pemerintah.

Kejadian MMR sendiri adalah 48 kasus dari 10.000 anak yang dilahirkan di tahun 1988. Dan tetap terjadi peningkatan walaupun vaksinasi MMR telah ditarik yaitu terdapat 117,2 kasus autisme dari 10.000 anak yang dilahirkan pada tahun 1996.

Tapi para peneliti tetap dituntut melakukan suatu penelitian untuk membuktikan bahwa vaksin MMR ini benar-benar aman digunakan dan tidak menyebabkan autisme pada anak.

Kekhawatiran ini muncul sejak tahun 1998 dimana suatu penyelidikan seorang ahli yang dituangkan dalam jurnal the Lancet, meng-klaim bahwa imunisasi MMR mungkin merupakan pencetus dari terjadinya autisme pada anak. Sebenarnya belum ada penelitian yang membuktikan hal tersebut dan kebanyakan peneliti percaya bahwa vaksin ini aman untuk diberikan pada anak. Tapi hal ini telah membuat semakin sedikit anak yang mendapat vaksinasi MMR.

Vaksinasi MMR adalah vaksin yang diberikan untuk meningkatkan ketahanan tubuh anak terhadap penyakit Mumps (gondongan), Measles (campak) dan Rubella (campak jerman).

Sumber: Journal of Child Psychology and Psychiatry

Apakah Anda Pengidap Nomophobia (Ketergantungan Kepada Smartphone), Cek Disini?

Apakah Anda Pengidap Nomophobia (Ketergantungan Kepada Smartphone), Cek Disini?
Apakah Anda merasa hampa atau bahkan panik jika berada jauh dari smartphone? Dunia terasa 'kiamat' karena merasa tidak terhubung dengan banyak orang dan kehilangan banyak informasi?

Bila begitu kondisinya, mungkin Anda sudah mengidap Nomophobia: merasa kehilangan atau rasa takut berlebihan ketika berada jauh dari smartphone. Nama Nomophobia sendiri muncul empat tahun lalu dari hasil studi yang dirilis oleh para psikolog di Inggris. Sejak saat itu penelitian terkait Nomophobia terus berlanjut hingga kini.

Berdasarkan survei yang dirilis situs berita Huffington Post pada September 2013, 64% penggunaan telepon pintar berusia muda antara 18-29 tahun diketahui selalu tertidur dengan membawa smartphone atau tablet ke tempat tidur.

Sedangkan survei lain yang dilakukan oleh Harris Interactive mengungkapkan 63% responden selalu mengecek smartphone paling sedikit satu kali tiap jam. Sementara ada sebagian kecil, tepatnya 5% responden yang mengaku akan mengecek smartphone per lima menit sekali.
Apakah Anda Pengidap Nomophobia (Ketergantungan Kepada Smartphone), Cek Disini?
Dr. David Greenfield, asisten professor di University of Connecticut School of Medicine mengatakan, kecanduan smartphone memiliki pola yang sama dengan jenis kecanduan lainnya yang melibatkan hormon dopamine. Hormon ini merupakan neurotransmitter yang fungsinya mengontrol pusat otak, khususnya dalam hal penghargaan terhadap sesuatu hal.

"Tiap kali ada notifikasi dari smartphone, Anda akan mengalami peningkatan dopamin yang mengarahkan otak Anda untuk berpikir bahwa ada sesuatu yang sangat menarik, apakah itu pesan teks atau email yang sudah Anda tunggu, atau berbagai hal lainnya," ungkap Greenfield seperti yang dilansir laman Business Insider, Rabu (6/8/2014).

Menariknya, psikiater Dale Archer mengatakan bahwa Nomophobia mungkin tidak akan disadari oleh orang yang mengidapnya. Sebab, ini adalah jenis phobia yang mungkin gejalanya dimiliki hampir semua orang yang menggunakan perangkat mobile di dunia ini.

"Tidak ada yang menyadari atau mengakui mengidap phobia ini. Ditambah lagi, efek yang disebabkan oleh phobia ini juga tidak terlalu mengganggu baik bagi kesehatan fisik ataupun mental, mungkin hanya 1% yang benar-benar terganggu hidupnya karena phobia ini," papar Archer. | Liputan6